Osteoporosis terjadi seiring dengan pertambahan usia, namun perempuan memiliki resiko 2 kali lipat terkena osteoporosis dan naik menjadi 4 kali lipat saat memasuki tahap menopause. Menopause adalah penurunan alami hormon reproduksi yang mulai dialami oleh wanita berumur 40-an hingga 50-an tahun.  

Namun mengapa hal ini bisa terjadi?

Menopause ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi selama 6 hingga 12 bulan berturut-turut. Meningkatnya resiko osteoporosis pada wanita menopause disebabkan oleh perubahan hormonal pada tubuh. Setelah menopause, ovarium akan menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen. Hormon estrogen berguna untuk menjaga kepadatan tulang. 

Sejalan dengan ini, dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, 1 dari 4 wanita yang berusia 56 tahun ke atas mengalami osteoporosis. Hal ini juga terjadi karena wanita memiliki kepadatan tulang yang lebih tipis dibanding pria. 

Penyebab Osteoporosis pada Wanita 

Selain estrogen, ada beberapa faktor lain yang dapat berpengaruh. 

1. Tubuh yang kecil dan kurus

Perempuan dengan tipe tubuh kecil dan kurus akan mengalami resiko osteoporosis lebih tinggi karena mereka punya sedikit tulang dibanding perempuan berukuran normal. Sedikit dan kecilnya tulang pada tubuh akan lebih mudah terkena fraktur (patah tulang) .

2. Menopause dini

Umumnya perempuan akan mengalami menopause di usia 40-an hingga 50-an tahun. Namun tidak sedikit yang akan mengalami menopause di bawah usia 40 tahun. Untuk wanita yang mengalami menopause di bawah 45 tahun disebut menopause dini sementara di bawah 40 tahun disebut menopause prematur. 

1% wanita di bawah 40 tahun, umumnya mengalami menopause prematur sementara ada 5% wanita di bawah 45 tahun yang mengalami menopause dini. Hal ini biasanya disebabkan oleh faktor medis, seperti berikut.

  • histerektomi: operasi pengangkatan rahim
  • ooforektomi: operasi pengangkatan ovarium
  • radiasi kemoterapi 
  • penyakit autoimun
  • HIV dan AIDS

Gejala Menopause Dini

Gejala menopause dini yang umum dialami oleh wanita ialah menstruasi yang tidak teratur atau bahkan berhenti. Selain itu, terdapat beberapa gejala lain, seperti berikut.

  • sulit tidur
  • muka memerah
  • berkeringat saat tidur
  • sulit berkonsentrasi
  • suasana hati yang buruk dan cemas
  • berkurangnya gairah seks (libido)
  • vagina kering dan tidak nyaman saat berhubungan seks

Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, Anda perlu konsultasi ke tenaga kesehatan untuk melakukan serangkaian tes. 

Mengurangi Resiko Osteoporosis pada Wanita Menopause

Menjadi tua memang tidak bisa dihindari namun Anda tetap bisa mereduksi resiko osteoporosis sedini mungkin. Berikut hal yang bisa Anda lakukan, terutama bagi Anda yang mengalami menopause. 

1. Latihan menahan beban

Mengangkat atau menahan beban dapat membangun massa otot. Sebagai permulaan, Anda bisa melakukan olahraga ringan namun dengan intensitas yang reguler. Hal ini akan memberikan waktu pada jaringan otot dan sistem saraf untuk pulih. Anda bisa memulai dengan aktivitas olahraga angkat dan tahan beban secara reguler seperti angkat beban, yoga dan pilates. 

2. Hindari gaya hidup tidak sehat

Gaya hidup yang tidak sehat termasuk merokok, minum alkohol dan konsumsi kafein yang berlebih. Batasi asupan alkohol Anda hingga 2 gelas per hari (standar minuman beralkohol) dan kafein maksimal 400 mg per hari atau setara 4 cangkir. 

3. Penuhi asupan nutrisi yang mendukung kepadatan tulang

Cara ini termasuk yang paling mudah untuk dilakukan. Sebelum itu Anda harus paham mengenai kebutuhan nutrisi harian Anda, karena kebutuhan nutrisi tiap orang dapat berbeda. Namun menurut penelitian, nutrisi-nutrisi berikut dapat membantu kepadatan tulang sehingga memperlambat proses osteoporosis. 

Kalsium: sebagai nutrisi penting untuk pembentukan tulang, Anda tidak boleh melewatkan nutrisi ini dalam kebutuhan asupan nutrisi harian Anda. Pada wanita menopause, kebutuhan kalsium per hari adalah 1.300 mg atau setara dengan 3 sampai 4 gelas susu. Anda juga bisa mendapatkan kalsium dari sumber makanan seperti kedelai, salmon dan sarden. 

Selain dari sumber nabati dan hewani, Anda juga dapat mengonsumsi suplemen yang mengandung kalsium organik, karena lebih baik dan mudah diserap oleh tulang. 

Vitamin D3: membantu absorpsi kalsium menjadi optimal. Vitamin D3 umumnya terdapat pada paparan sinar matahari dan terbatas pada sumber makanan. Selain berjemur, Anda bisa mendapatkan vitamin D3 melalui bantuan suplementasi. 

Ester-C: Salah satu jenis dari vitamin C ini dapat membantu memproduksi kolagen dalam matriks tulang. Ester-C juga membantu menangkal radikal bebas yang merugikan kesehatan tulang dan tidak bersifat asam di lambung.
Nutrisi-nutrisi di atas bisa Anda dapatkan dalam Biocalci, yang merupakan suplemen kalsium organik + Ester C dilengkapi dengan Vitamin D3 untuk membantu menjaga kesehatan tulang dan daya tahan tubuh Anda

Ditinjau oleh: dr. Putri Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published.